25 November 2019 kami berjumpa. 12 orang yang jelas berbeda
karakter, kebiasaan dan kesukaan. Sejak awal sebenarnya aku sudah penasaran,
akan bertemu dengan orang-orang yang seperti apa. Allah pengen aku belajar apa
kali ini dari orang-orang baru yang akan aku temui.
Dan tadaa… 12 orang yang ternyata buat kupingku penuh dengan kebisingan, buat aku kadang terkejut dengan kata-kata pedes mereka, belum lagi dengan penataan bahasa mereka yang kudu pakai bahasa yang baik dan benar, sampai aku bingung, kami sebenarnya belajar grammar bahasa inggris atau Indonesia. But you know, meski bertolak belakang banget dengan karakterku yang lebih suka ketenangan dan kedamaian, I feel comfortable with them.
I don`t know why,
tapi waktu 3 bulan terasa cepat bareng mereka. Ada Mbak Uci yang suka banget
ngomong, sampai kupikir kalau setiap kata yang keluar dari mulut Mba Uci dalam
sehari, kalau diketik bisa jadi beberapa bab buku. Ada Mbak Fitri yang suka
sekali jadi editor bahasa, plus jadi bendahara kesayangan kami. Mbak Kia yang
super duber kompetitif, saking kompetitifnya, maen badminton aja badannya sampai
ijo karena jatoh-jatohan, itu masih maen padahal, gimana kalau lomba, mungkin
badannya udah mejikuhibinium. Ada Mbak Liza dan Mbak Widya yang enak banget
diajak bahas jodoh. Mbak Ririn yang kalem tapi punya banyak experience,
yang buat aku seneng sharing everything.
Tiga bulan bareng mereka, dengan berbagai keragaman itu, buat aku
berterima kasih ke Allah, karena udah buat LPDP ngumpulin kami di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Aku gak pernah percaya dengan kebetulan. Karena aku yakin
setiap hal itu saling berkaitan satu sama lain. Seperti kata Steve Jobs dengan story
“Dots” nya. Tahun lalu, saat ujian TOEFL aku dapat nilai 497 dari targetku 500.
Hanya cukup benar 1 nomor lagi bisa capai target. Tapi aku gak kecewa. Hal yang
kupikirkan saat itu adalah, “mungkin Allah pengen aku belajar lagi.”
Mungkin kalau saat itu, Allah wujudkan doaku untuk dapat nilai
sesuai target, aku gak akan bertemu mereka, gak akan punya keluarga baru dari Kalimantan,
Sulawesi, Banten dan Sumatera, gak akan bisa denger kisah-kisah inspiring
mereka ketika one hour closer, gak bisa ngelarasin tempoyak, ikan
saluang, kerupuk Mas Syarif, atau mie buatan Mbak Uci, gak bisa jalan-jalan
bareng ke Ragunan, Senopati dan Monas, dan gak bisa saling berbagi dan
mendoakan untuk bisa meraih impian, karena belum saling kenal. Rencana Allah memang
selalu indah.
Sekarang kita terpisah oleh jarak dan waktu, tapi bukan berarti
kita tidak bisa saling keep and touch. Pertama kali ketemu mereka
ber-12, aku yakin mereka akan jadi orang-orang yang besar. We don`t know
what happen in the future, tapi aku selalu berdoa orang-orang baiklah yang
akan memimpin bangsa ini. Dan mereka termasuk di dalamnya.
Tetap rendah hati, menebar senyum dan kebermanfaat untuk sekitar. Dan
paling penting, tetap pertahankan motto hidup kelas kita, “Namanya juga hidup,
kadang di atas, kadang di bawah. Always grateful.”
See you soon guys
In Bandung
Insyaa Allah
Dibuang sayang..
![]() |
Wajah-wajah polos di meet up perdana |
![]() |
Ajaran pertama ketua kelas kami, berfaedah sekali Kegiatan sharing for caring |
Wkwkwwkwk sedih bacanya. Soalnya dibilang nggaring padahal udah ditata dengan rapi joke nya
BalasHapusHahaah,, udah ada penibgkatan kok mas jokenya, coba lagi aja 😂
Hapusterharu 😓😓😓😓
BalasHapussee u soo
HapusMasyaaAllah. Inspiratif. Sukses terus👍
BalasHapus