Langsung ke konten utama

Rumah Berkarya dan Bermanfaat



Tahun 2019 dulu, menjadi tahun pelayaran nekatku untuk memantaskan diri mewujudkan cita-cita. Aku bersyukur menuliskannya di blog ini. Dan sekitar 6 tahun kemudian, atau tepatnya di tahun 2025 ini, aku sudah sampai pada cita-cita itu, untuk menjadi seorang pendidik. Ada sedikit perubahan pada rencana lokasinya, namun aku percaya rencana Allah jauh lebih indah, terlebih disertai pula dengan ridho orang tua.

Rumah baru ini akan menjadi tempatku berkarya. Aku akan menulis, mendidik, dan mengabdi di rumah ini selama beberapa dekade, insyaa Allah, Allah senantiasa beri kesehatan. Selama waktu itu, aku tahu, akan ada banyak pelajaran berharga yang ditemui untuk membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik. Aku tidak ingin menulis banyak hal, aku hanya ingin menulis pesan pengingat untuk diriku agar tetap kuat.

"Suci, jadilah dirimu sendiri. Berbuatlah dengan hati. Libatkan Allah dalam pikir, tutur, dan perbuatan. Allah Maha Melihat, Allah Maha Menjaga. Ingat kembali niat awal, bahwa kesempatan ini menjadi salah satu jalan untuk mendapat ridho Allah. Suci, memiliki Allah dan diiring dengan doa mama juga etta di rumah sudah sangat lebih dari cukup untuk merasa aman. Jadi, tak perlu terlalu khawatir. Jika terasa sulit, ada Allah yang membantu mudahkan. Jika terasa lama, ada Allah yang selalu mebersamai. Jika terasa sesak, ada Allah yang menenangkan. Jika terasa sakit, ada Allah yang akan menyembuhkan lukanya. Allah tidak akan pernah meninggalkan hambaNya, dia selalu dekat dan mendengarkanmu :) Selama perjalanan ini, tolong jaga dirimu baik-baik, dengan segala sesuatu yang baik, halal, lagi berkah. Terulah menjadi baik, meski yang lain tidak. Teruslah mengejar keberkahan, meski sekitar menggoda. Teruslah taat, hingga tiba waktunya berpulang. Semoga, dengan upaya menjaga diri, Allah akan menjaga hati juga urusan dunia dan akhiratmu :)". 






"Teruslah berkarya, bermanfaat, dan lanjutkan perjalanan berikutnya :)"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Palu Bangkit : Sahabat

"Merantaulah. Kau kan dapatkan pengganti kerabat dan kawan." Imam Al-Ghazali Kenapa Palu menjadi kota yang selalu indah dan takkan terhapus dalam kenangan sejarah hidupku, karena Kota Palu adalah tempat dimana ku temulan kerabat dan kawan seperti yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali. Para sahabat baik yang selalu menjadi tempaku belajar dan belajar. Berproses dan bertumbuh. Dibalik segala kekurangan seorang gadis pemalu, merekalah para sahabat yang meng Make Over diriku menjadi tampil berbeda. Bukan menawarkanku untuk memakai lipstik, foundation atau mencoba berbagai tutorial make up, tapi lebih dari itu. Mereka membantuku untuk keluar dari zona nyaman dan menjadi lebih berani untuk menatap hidup yang lebih berwarna. "Ada lomba menulis nih, kuy pada daftar" "Eh ada info beasiswa ini jangan lupa daftar yah" "Kalian udah daftar event itu blom, buru jangan deadline!" Tak hanya saling memotivasi untuk berkarya dan berprestasi, mereka jug...

Setelah penjelajahan ini, Akhirnya…

Saat sedang membaca novel Tere Liye, berjudul 'Tentang Kamu', tiba-tiba hpku bergetar. Sebuah notiviasi pesan masuk. Kusapu layar handphone untuk melihatnya. Tanganku tiba-tiba gemetar. Tak berpikir panjang, kubuka sebuah situs di google. Berkali-kali ku coba, tak kunjung bisa masuk.  Jantungku semakin berdegup kenjang. Ditambah jari-jariku yang terus gemetar. Kucoba membuka situs tersebut dengan aplikasi lain. Dan akhirnya, TERBUKA. Ku klik status dalam link tersebut. Aku menutup mulut, tanganku masih gemetar. Aku masih belum menyangka. Kutelpon seorang teman yang lebih paham masalah ini. “Halo ka?” tanyaku “Ya?” jawabnya dari balik telepon “Hari ini pengumuman. Kalau tulisannya lolos substansi itu artinya apa?” tanyaku dengan suara bergetar “Artinya kamu lolos!” jawabnya bahagia. Hari ini, 16 September 2019, akhirnya yang kuikhtiarkan sejak meminta izin pada Ibu Desember 2018 silam, menampakkan hasilnya. Hampir 10 bulan terlewati, 2 lebaran ku lalu...

Kenapa Memilih Menjadi Dosen dan Bagaimana Proses Persiapannya?

Tulisan ini kudedikasikan untuk diriku sendiri sebagai pengingat akan niat dan tujuan mengapa memilih karir ini. Dan selebihnya, semoga ada manfaat yang bisa diperoleh pembaca dalam proses perjalanannya. *** Pic: Buku yang digunakan sebagai bahan ajar “Kenapa ingin jadi dosen?” tanya seorang interviewer saat saya sedang mengikuti wawancara CPSN.  Saya pun mencoba menjawab pertanyaan ini “Pertama, pilihan karir dosen menjadi wadah saya untuk bisa bermanfaat tidak hanya melalui pengajaran, namun juga menyebarluaskannya melalui tulisan/publikasi, dan mengaplikasikannya dengan pengabdian kepada masyarakat. Dan semoga bisa menjadi amalan saya juga ketika sudah tidak ada di dunia, melalui ilmu yang bermanfaat sebagai amal jariah yang tidak terputus. Kedua, saya merasa punya tanggung jawab setelah mendapat privilege untuk bisa sekolah tinggi, melalui beasiswa pula sejak S1 hingga S2, dimana masih banyak orang lain yang tidak bisa mengenyam kesempatan ini, yang mungkin bahkan saya pikir m...