Langsung ke konten utama

Postingan

Malang : Celengan

“Dunia itu tempat transaksi. Siapa yang punya celengan banyak maka ia akan mendapatkan hal yang lebih besar. Pun sebaliknya, mereka yang memiliki celengan sedikit, maka hanya akan mendapatkan sepadan atau bahkan tidak sama sekali. Karena apa yang ingin kita beli begitu mahal harganya. Terima kasih telah mengingatkan ku” Kenapa sampai di kota Malang? Saya pun bingung, karena Malang tidak termasuk dalam perencanaan kota yang akan ku kunjungi. Namun ternyata, takdir-Nya membawa ku ke tempat ini. Dengan sebuah alasan. Lewat rencana-Nya yang tak disangka-sangka. Lalu ada apa di Malang? Ada sebuah pesan yang Allah kembali ingatkan padaku. Tentang sebuah tujuan. Tentang sebuah proses pembelajaran. Dia mengirim orang-orang untuk mengingatkan ku bahwa “Ini Dunia”. Tempat kita menyiapkan sebuah celengan. Seperti itulah kata mereka. Saya baru sadar beberapa bulan yang lalu, bahwa saya mengejar “Dunia” itu dengan total. Meninggalkan kampung halaman, keluarga dan segala kenyamanan. Saya t...

Kisah Inspiratif : “Tetaplah ke sekolah, meski kamu mati terbunuh.”

“Tetaplah ke sekolah meski kamu mati terbunuh,” gigih ibunda Samsiah kepada buah hatinya tercinta. Anaknya bernama Samsiah menjadi salah satu korban penyemprotan cairan asam dari segerombolan lelaki Afganistan yang anti sekolah. Ia menderita luka bakar paling parah dan memperoleh noda cacat di kelopak mata dan sebagian besar pipi kiri. “Kalau anda tidak mengirim anak-anak gadis ke sekolah, musuh kalian yang menang,” seru kepala sekolah bergetar. Sejak kejadian penyemprotan cairan asam ke wajah para siswa, Sekolah Mirwais menjadi sepi. Namun itu tidak berlangsung lama, kini ada sekitar 1.300 siswi belajar disana tanpa jaminan keamanan. Kapan pun kekejian bisa menimpa mereka. Namun mereka tetap semangat untuk menempuh pendidikan. Kisah ini menjadi sebuah tamparan untuk kita, khususnya saya pribadi. Yang mungkin ada masa dimana keluhan-keluhan terlontar saat belajar. Capek, lelah dan penat dengan berbagai pelajaran. Namun ternyata, ada adik-adik di luar sana yang bahkan harus berko...

Kediri : Kota Pertemanan

“Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Karena setiap pertemuan pasti punya makna.” Setelah dari Blitar perjalanan berlanjut selama kurang lebih empat bulan di kota Kediri. Tepatnya di sebuah perkampungan yang membuatku merasa sangat nyaman. Saya menyukai suasananya yang begitu tenang. Pemandangan yang menyegarkan dari sawah hijau di sekitar rumah penduduk. Tetangga yang hangat. Iklim pembelajar. Ditambah poin plusnya adalah biaya hidup yang begitu murah. Bahkan dengan uang 5 ribu rupiah saya bisa makan dua kali sehari. Biaya tempat tinggal 250 ribu perbulan. Paling banter dengan uang 800 ribu saja saya bisa menikmati hidup di tempat ini. Kamu bisa mencobanya juga. Tapi dengan catatan : Jangan suka jajan.   Sekedar info saja, saya naik sekitar 2-3 kg saat pulang dari kota ini. Begitu dengan testimony orang-orang kebanyakan. Tentu kamu tahu kan penyebabanya. Yap, jajanan dan makanan disini murah meriahnya kebangetan. Gambar yang saya ambil dari lantai dua elfast  ...

Blitar : Rumah Baru

"Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang" ~ Imam Syafi'i Hayooo…ada yang tahu dimana Bapak Proklamator Ir.Soekarno menjalani masa kecilnya dan di kuburkan dimana? Tepat sekali. Di kota Blitar, Jawa Timur. Jika dari Surabaya kamu bisa menempuh waktu sekitar empat sampai lima jam untuk sampai di kota ini dengan menggunakan bus antar kota.  Nah, saat kamu berkunjung ke Blitar, jangan sampai melewatkan tuk melihat peninggalan sejarah. Karena kamu pasti sudah tidak asing dengan pesan ini, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya.” Berikut ini beberapa destinasi sejarah yang patut kamu kunjungi, khusunya berkaitan dengan sejarah Presiden Pertama kita Ir.Soekarno. Kuy langsung aja…check these out…  1) Istana Gebang  Istana Gebang merupakan rumah Ayah Bung Karno yakni R.Soekeni Sosrodihardjo yang menjadi kediaman masa kecil Sang Proklamator. Bentuk i...

Kartiniku

"Meski beribu kilo meter kaki melangkah, kita selalu nyaman untuk kembali dengan tawa atau pun tangis dalam dekapannya." 21 April tepat hari ini di peringati sebagai hari Kartini. Sosok pahlawan yang berjuang guna memperoleh hak-haknya sebagai seorang perempuan yang dianggap terbelakang. Sehingga bagi kalangannya, yakni kaum Hawa di anggap tak pantas memperoleh pendidikan dan tak bisa “cerdas” seperti halnya kaum Adam. Padahal jelas sekali, Allah memberi lelaki tak terkecuali juga wanita akal untuk berpikir dan potensi untuk dikembangkan, sedangkan pembedanya hanyalah ke-taqwa-an. Kartini adalah sosok inspirasi bagi para wanita di zamannya hingga hari ini. Itulah Raden Ajeng Kartini yang ku kenal lewat sejarah. Kartini memang sudah tiada, namun bagiku, gambaran sosok tentang dirinya masih selalu menyapa dalam diri wanita itu. Saya sering memanggilnya Mama. Kita anak-anaknya pasti sepakat, bahwa Mama adalah Kartini yang juga menjadi pahlawan kita selama ini. “Ia selalu...

Impian #1 : Satu bulan berlalu. Mulai Jenuh?

Kisah dari mimpi #1 masih diizinkan-Nya berlanjut hingga hari ini. Sebulan berlalu setelah perjalanan menempuh luasnya samudra selama dua hari. Kita masuk pada proses menuju titik berikutnya. Belajar…Belajar…Belajar! Saya jadi teringat kisah seorang teman saya yang sedang menjalani coas di Rumah Sakit. Ia sempat mengeluh karena padatnya rutinitas yang ia jalani setiap hari. Kurangnya jam tidur di tambah tekanan senioritas, buat ia sempat berpikir tuk keluar dari coas dan tidak ingin melanjutkannya. Hal serupa pun terjadi pada kami. Sebut saja kami para pejuang bahasa. Rutinitas kami selalu bergelut dengan dunia tata bahasa yang baik dan benar. Pukul 05.30 pagi sudah harus masuk kelas smpai jam 08.30 pagi. Lanjut lagi masuk 10.00 pagi – 01.00 siang. Masuk kembali jam 04.00 – 05.30 sore. Di lanjut kelas malam jam 07.30 – 09.00 malam. Totalnya ada enam kelas dalam sehari. Rutinitas itu dijalani dari Senin-Jumat. Belum lagi suguhan PR setiap harinya dan kelas tambahan di weekend. Nge...

Impian #6 : Merpati

Bismillah Ini adalah salah satu kisah dan mimpi lain di tahun ini. Setiap impian yang ku tuliskan merupakan langkah demi langkah semata-mata untuk mencapai ridho-Nya. Ya, sesuai tujuan kita diciptakan. Dan untuk mencapai tujuan itu, langkah yang dilakukan yakni dengan membuat segala impian yang tertuju untuk kebermanfaatan orang banyak. Kali ini, impian itu tergagas bersama orang-orang hebat yang ku anggap sebagai keluarga dan tempatku bertumbuh. Saya selalu percaya, bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Termasuk setiap petemuan dan berbagai momentum yang kita lalui dalam hidup. Salah satu contoh kecilnya yakni tergagasnya impian ini. Dulu, kami tidak saling mengenal. Lalu , Tuhan mempertemukan. Menariknya, lewat kekurangan kami. Berasal dari keluarga sederhana, membuat kami harus ikut berpikir tuk meringankan beban keluarga dalam membiayai pendidikan kami. Dari sanalah Tuhan mempertemukan kami. Melalui Yayasan Karya Salemba Empat. Pemberi dana beasiswa yang san...