Langsung ke konten utama

Blitar : Rumah Baru


"Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang" ~ Imam Syafi'i

Hayooo…ada yang tahu dimana Bapak Proklamator Ir.Soekarno menjalani masa kecilnya dan di kuburkan dimana? Tepat sekali. Di kota Blitar, Jawa Timur. Jika dari Surabaya kamu bisa menempuh waktu sekitar empat sampai lima jam untuk sampai di kota ini dengan menggunakan bus antar kota. 

Nah, saat kamu berkunjung ke Blitar, jangan sampai melewatkan tuk melihat peninggalan sejarah. Karena kamu pasti sudah tidak asing dengan pesan ini, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya.” Berikut ini beberapa destinasi sejarah yang patut kamu kunjungi, khusunya berkaitan dengan sejarah Presiden Pertama kita Ir.Soekarno. Kuy langsung aja…check these out… 

1) Istana Gebang 

Istana Gebang merupakan rumah Ayah Bung Karno yakni R.Soekeni Sosrodihardjo yang menjadi kediaman masa kecil Sang Proklamator. Bentuk istana ini sederhana, namun elegan. Terletak di Jalan Sultan Agung No.95, Sananwaten, Kota Blitar. Istana ini terdiri dari ruang tamu, ruang tengah yang dilengkapi meja kerja, kamar tamu untuk laki-laki dan perempuan, kamar orangtua dan kamar Bung Karno, ruang makan, dapur, dan teras yang terlatak di depan dan tengah. 







Istana ini juga dilengkapi dengan garasi di samping rumah. Sedangkan di halaman depan ada bendera, gong perdamaian dan patung Bung Karno yang berdiri tegap. Untuk bisa masuk ke Istana Gebang, kamu cukup membayar biaya registrasi Rp.3.000,-. 

2) Musium Bung Karno 

Musium Bung Karno terletak di Jalan Ir.Soekarno No.152, Kota Blitar. Di musium ini kamu akan disuguhkan sejarah perjalanan dan perjuangan Ir.Soekarno. Terdapat miniatur replika bangunan pengasingan Bung Karno, replika naskah proklamasi, juga ada gambar Bung Karno bersama orang-orang terdekatnya dan di masa bersejarah Indonesia. 





Menariknya, saat masuk musium, kamu akan melihat gambar Bung Karno yang jika diperhatikan dengan seksama bisa tampak berdetak atau bergetar. Di depan musium juga ada patung Bung Karno yang sedang duduk sambil membaca buku, cocok banget untuk diabadikan dalam koleksi foto perjalananmu. Untuk masuk ke museum kamu tidak perlu keluar biaya atau artinya gratis. 

3) Perpustakaan Nasional Bung Karno 

Perpustakaan Nasional Bung Karno terletak di lokasi yang sama dengan Musium Bung karno. Tepatnya di samping musium. Perpustakaan ini memiliki dua lantai. Lantai pertama berisi buku-buku sejarah, sedangkan lantai kedua berisi buku umum seperti sastra, sains, sosial, psikologi, filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Kamu juga gratis masuk ke perpustakaan ini dan bisa meminjam buku dengan syarat telah memiliki kartu anggota. 

4) Makam Bung Karno 

Makam Bung Karno juga terletak dalam lingkungan yang sama bersama musium dan perpustakaan Bung Karno. Untuk bisa masuk ke dalam makam, kamu harus membayar biaya masuk Rp.3.000,- 

Sebelum dan sesudah keluar dari makam, kamu akan menemukan puluhan kios berjejer menawarkan pernak-pernik khas daerah Blitar dengan harga yang murah meriah. 

Itu dia beberapa destinasi sejarah untuk mengenang pahlawan yang sudah berjuang dengan segala upaya dan tenaganya demi kemerdekaan Indonesia yakni Founding Father Ir.Soekarno. Semoga dengan berkunjung di destinasi sejarah tersebut, bisa menjadi refleksi untuk kita bersama agar ikut andil dalam bekontribusi demi kemajuan bangsa dan negara. Merdeka! 

Dilansir dari : https://www.atmago.com/posts/kamu-wajib-ke-tempat-ini-saat-berkunjung-ke-blitar-_post_id_cf7d6a36-9ec9-48d6-a47a-48712210988c

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Memilih Menjadi Dosen dan Bagaimana Proses Persiapannya?

Tulisan ini kudedikasikan untuk diriku sendiri sebagai pengingat akan niat dan tujuan mengapa memilih karir ini. Dan selebihnya, semoga ada manfaat yang bisa diperoleh pembaca dalam proses perjalanannya. *** Pic: Buku yang digunakan sebagai bahan ajar “Kenapa ingin jadi dosen?” tanya seorang interviewer saat saya sedang mengikuti wawancara CPSN.  Saya pun mencoba menjawab pertanyaan ini “Pertama, pilihan karir dosen menjadi wadah saya untuk bisa bermanfaat tidak hanya melalui pengajaran, namun juga menyebarluaskannya melalui tulisan/publikasi, dan mengaplikasikannya dengan pengabdian kepada masyarakat. Dan semoga bisa menjadi amalan saya juga ketika sudah tidak ada di dunia, melalui ilmu yang bermanfaat sebagai amal jariah yang tidak terputus. Kedua, saya merasa punya tanggung jawab setelah mendapat privilege untuk bisa sekolah tinggi, melalui beasiswa pula sejak S1 hingga S2, dimana masih banyak orang lain yang tidak bisa mengenyam kesempatan ini, yang mungkin bahkan saya pikir m...

Setelah penjelajahan ini, Akhirnya…

Saat sedang membaca novel Tere Liye, berjudul 'Tentang Kamu', tiba-tiba hpku bergetar. Sebuah notiviasi pesan masuk. Kusapu layar handphone untuk melihatnya. Tanganku tiba-tiba gemetar. Tak berpikir panjang, kubuka sebuah situs di google. Berkali-kali ku coba, tak kunjung bisa masuk.  Jantungku semakin berdegup kenjang. Ditambah jari-jariku yang terus gemetar. Kucoba membuka situs tersebut dengan aplikasi lain. Dan akhirnya, TERBUKA. Ku klik status dalam link tersebut. Aku menutup mulut, tanganku masih gemetar. Aku masih belum menyangka. Kutelpon seorang teman yang lebih paham masalah ini. “Halo ka?” tanyaku “Ya?” jawabnya dari balik telepon “Hari ini pengumuman. Kalau tulisannya lolos substansi itu artinya apa?” tanyaku dengan suara bergetar “Artinya kamu lolos!” jawabnya bahagia. Hari ini, 16 September 2019, akhirnya yang kuikhtiarkan sejak meminta izin pada Ibu Desember 2018 silam, menampakkan hasilnya. Hampir 10 bulan terlewati, 2 lebaran ku lalu...

Impian #1 : Perjalanan

Impian akan membawa kita terbang. Semakin kita percaya dengan impian itu, semakin kita tak menyangka bahwa ia telah membawa kita jauh dari sebelumnya. Ada begitu banyak hal yang akan terlewati dalam proses pencapaiannya. Sehingga rasa-rasanya, rugi jika tak diabadikan dalam aksara. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian .” Tulisan ini in syaa Allah akan berkelanjutan. Inspirasinya berawal dari pemikiran kebanyakan orang yang hanya melihat hasil pencapaian seseorang. Hingga lupa ada proses yang mengorbankan banyak tangis, rindu, waktu, dan berbagai ujian fisik, materi hingga batin. Ketika setiap penonton melihat proses itu, maka mereka tidak akan mudah (lagi) menilai dan berkomentar, “Dia beruntung”, “Dia punya fasilitas lengkap”, atau “Dia punya orang dalam.” Setiap orang menjalani prosesnya dari titik nol hingga ia menja...