Langsung ke konten utama

Postingan

Hey 21 Tahun

21 tahun. Menurut orang-orang angka 21 masihlah muda. Namun bagiku justru kebalikannya. Ketika menginjak angka kepala dua, artinya kamu sudah masuk di usia “Dewasa”. Baik dewasa secara fisik. Dewasa dalam berpikir. Dewasa dalam memutuskan. Dewasa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Dan dewasa dalam memilih siapa saja yang akan bersamamu saat ini dan di masa yang akan datang.  21 tahun. Usia dimana kamu tidak boleh ogah-ogahan untuk mempersiapkan jangka pendek dan jangka panjang kedepan dalam hidupmu. Termasuk memikirkan tentang, kapan kamu akan menikah, bagaimana menjadi seorang istri dan ibu yang baik, pekerjaan apa yang kamu inginkan, siapa saja orang-orang yang harus segera kamu bahagiakan dan kapan kamu mewujudkannya.  Kamu harus memikirkan dan mempersiapkannya dari sekarang. 21 tahun. Bagiku adalah usia pemantasan dan pembuktian. Pemantasan bahwa kamu layak mempertahankan “idealisme” mu dalam bermimpi. Dan akan selalu butuh pembuktian. Bukan untuk me...

Palu Bangkit : Pilihan!

"Merealisasikan mimpi adalah akumulasi dari kerja keras, perencanaan yang matang, konsistensi yang tinggi serta kesabaran dalam waktu yang lama. Jika belum memilikinya, renungkan kembali semangatmu!" ¬ Ario Muhammad (Penulis Buku) Hidup selalu identik dengan pilihan. Jika ada yang diperjuangkan, maka harus ada yang dikorbankan. Begitulah mekanismenya. Tapi tahu tidak, dengan berbagai pilihan itu kita bisa semakin mendewasa. Karena kita belajar menerima resiko dan dampak dari pilihan kita sendiri. Dalam sehari, kita bisa memutuskan puluhan pilihan. Mulai dari memilih sarapan nasi atau roti. Membaca buku atau webtoon . Menonton sinetron atau berita. Hingga keputusan besar, seperti memilih lanjut kuliah atau bekerja. Wanita karir atau ibu rumah tangga. Pergi atau tetap tinggal. Keputusan besar selalu identik dengan “Zona Nyaman” dan “Idealisme.” Contohnya, ada begitu banyak orang yang punya impian untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, namun ada pilihan lain yakni ...

Palu Bangkit : Tadulako Menginspirasi

 "Tadulako Kuat, Tadulako Bangkit." Awalnya, kami pikir bahwa kegiatan ini tidak akan terlaksana di tahun ini, karena bencana yang menimpa Kota Palu kemarin, membuat timeline kegiatan tak berjalan sesuai rencana. Namun di luar dugaan, ternyata bencana tak membuat semangat teman-teman pupus. Keren sekali kan mereka. Dengan mengusung tema, "Tadulako Kuat, Tadulako Bangkit." Tadulako Menginspirasi merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh Komunitas anakUntad. Jika sahabat biasa menonton TEDX, seperti itulah bentuk kegiatan ini. Menghadirkan para bintang yang punya segudang prestasi dan karya serta bermanfaat untuk banyak orang. Jika TEDX Indonesia biasanya menghadirkan para tokoh ternama seperti Ridwan Kamil atau Anies Baswedan, maka Tadulako Menginspirasi menghadirkan mahasiswa atau fresh graduate Universitas Tadulako. Tujuan kegiatan ini untuk memberi semangat dan virus menginspirasi dari para inspirator, sehingga dapat menjadi Role Model b...

Palu Bangkit : Pak Togar dari Jawa

“Pada akhirnya, setiap orang harus dan wajib mengambil peran untuk berbuat baik. Menyuarakan yang baik. Menceritakan yang baik. Melangkah yang baik. Agar energi dan getaran positif senantiasa ada di Indonesia. Agar tulisan-tulisan sejarah ke masa depan semakin baik untuk dibaca. Segerakan ambil peranmu.” ~ Satriadi Indarmawan (Founder Yayasan Karya Salemba Empat) Masih berkaitan dengan orang baik. Saya ingin berkisah tentang seseorang yang banyak menginspirasi para anak muda termasuk saya sendiri. Saya pertama kali bertemu beliau pada tahun 2015 di Seminar dan Workshop yang dilaksanakan oleh Paguyuban Karya Salemba Empat Universitas Tadulako. Waktu itu saya sedang manjadi hunter scholarship . Entah ada berapa beasiswa yang ku apply pada saat itu, sebelum akhirnya tahun 2016 saya diterima menjadi penerima beasiswa KSE. Saat beliau menjadi pemateri di seminar, saya berusaha untuk tetap fokus. Pikirku, jika ingin mendapat beasiswa ini, maka saya harus tahu tujuan bea...

Palu Bangkit : Orang Baik

‘’Aksi = Reaksi’’ Saya sempat menuliskan tentang ‘ ’Teruslah Berbuat Baik’’ di buku pertama saya ‘’Tuhan, Aku Rindu.’’ Saya selalu percaya pesan Bapak saya, bahwa ketika kita baik pada orang, maka   orang lain pun akan baik dengan diri kita. Dulu saya tipekel orang egois. Lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain. Tidak ingin pusing dengan sekitar. Duniaku ya hidupku. Namun, semuanya berubah ketika saya memutuskan merantau. Saya tahu, bahwa hidup di perantaun itu tak seenak hidup di rumah. Sehingga, jika saya masih bersikukuh dengan sifat egoisku, mustahil orang lain akan memperdulikan atau membantuku. Apalagi di perantauan saya adalah orang baru yang jauh dari keluarga, sehingga pasti butuh bantuan orang lain. Wejangan Bapak benar-benar mujarab. Masya Allah, banyak sekali kemudahan yang Allah beri. Baik dalam kuliah maupun organisasi. Contohnya, sejak kuliah saya tidak memiliki laptop. Tapi Allah mudahkan saya bisa mengerjakan tugas, skripsi bahkan meny...

Palu Bangkit : Semangat Wisudawan Menginspirasi

“Perekonomian, kondisi fisik, bukanlah halangan kita untuk mencapai cita-cita kita. Allah melihat dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hambanya yang bersungguh-sungguh. Man jadda wa jadda. Harus selalu diingat, kesabaran pasti selalu berbuah manis.” ~ Sunik Frentiana Saya sangat suka sekali belajar dari pengalaman orang lain. Saya takkan sungkan bertanya kepada mereka tentang motivasi dan semangatnya untuk berkarya. Saya selalu mengagumi orang-orang di sekitar saya yang punya kemauan dan tekad besar untuk bermanfaat bagi banyak orang. Bagiku, mereka menjadi suntikan energi jiwa untuk juga bisa tuk terus bermanfaat. Tahukah kita, ada banyak sekali orang baik di luaran sana. Mereka tak eksis di dunia maya. Mereka pun tak mencari popularitas di zaman milenial ini. Ketulusan hati mereka kadang membuat saya pribadi iri. Era dimana orang-orang sibuk untuk eksistensi diri, tapi mereka lebih memilih sibuk menebar kebaikan dalam kesunyian. Saya jadi teringat dengan kisah Uwa...

Palu Bangkit : Kita Wisuda

“Gedung runtuh tak berarti semangat harus runtuh. Auditorium roboh tak berarti wisuda batal.” Alhamdulillah, punya kesempatan lagi untuk melanjutkan challenge menyelesaikan 30 tulisan. Yah walaupun tidak secara berurutan setiap hari. Kali ini saya ingin mengabadikan momen yang pada umumnya spesial untuk mereka yang berstatus mahasiswa lewat tulisan blog ini. Yaps, Wisuda. Akhirnya, pertanyaan “Kapan Wisuda” yang entah sudah berapa kali ditanyakan oleh orang-orang yang ku kenal maupun tidak bisa ku jawab juga. Tapi anehnya, pertanyaan “Kapan” tidak berhenti hanya disitu saja. Masih ada banyak pertanyaan “Kapan” yang masih belum terjawab. Biarkan Allah, doa dan waktu yang menjawabnya. Saya ingin sedikit bercerita tentang wisuda kemarin. Bagi kebanyakan orang, wisuda menjadi momen spesial yang sangat ditunggu-tunggu. Untuk kamu yang merasa mahasiswa tentu sangat familiar dengan rutinitas laporan, acc, makalah, diskusi, individu, kelompok, proposal, hasil, dan skripsi....