Langsung ke konten utama

Ramadhan Challenge Part 14 : Selagi Masih Muda




“Selagi masih muda, lakukanlah ! Lebih baik melawan rasa takutmu dari pada menyesal disepanjang hayatmu.”

Muda hanya sekali. Tuapun hanya sekali. Hanya saja lebih dulu masa muda lalu masa tua. Pernah tidak kalian membaca artikel seperti “Lakukan 10 hal ini diusia 20an tahun” atau “10 hal ini membuatmu menyesal tidak melakukannya dimasa muda” (yah kurang dibolak-balik aja sih kata-katanya hehehe). Saya pun biasa memikirkannya. Saya tipekel orang yang segala sesuatunya harus direncanakan terlebih dahulu. Termasuk kapan selesai kuliah, kapan melanjutkan kuliah lagi, kapan bekerja, kapan nikah, dan seterusnya. Bahkan saya pun pernah memikirkan bagaimana rumah tangga kecil saya kelak (uh nulis ini bawaannya baper dah). Namun, ketika saya memikirkan hal ini, ada perasaan takut dalam diriku. Dan saya baru menyadari bahwa masa muda saya untuk melakukan apapun yang saya inginkan tidak lama lagi (apapun : maknanya positif dan berfaedah yah). Sebelum saya bertemu dengan kewajiban baruku entah dengan pekerjaanku atau karena peranku sebagai ibu rumah tangga yang nantinya akan membatasi egoku untuk melakukan berbagai hal, 
Saya ingi mewujudkan berbagai hal yang bisa saya lakukan dihari ini. Karena penyesalan diakhir itu tidak enak. Saya sudah sering mengalaminya. Cukup taulah rasanya seperti apa. Satu hal yang ingin sekali saya lakukan dimasa muda yaitu traveling di kota-kota tujuanku. Saya berharap bisa melakukannya !

#RamadhanChallenge
#30DWB
#NulisRundom2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Memilih Menjadi Dosen dan Bagaimana Proses Persiapannya?

Tulisan ini kudedikasikan untuk diriku sendiri sebagai pengingat akan niat dan tujuan mengapa memilih karir ini. Dan selebihnya, semoga ada manfaat yang bisa diperoleh pembaca dalam proses perjalanannya. *** Pic: Buku yang digunakan sebagai bahan ajar “Kenapa ingin jadi dosen?” tanya seorang interviewer saat saya sedang mengikuti wawancara CPSN.  Saya pun mencoba menjawab pertanyaan ini “Pertama, pilihan karir dosen menjadi wadah saya untuk bisa bermanfaat tidak hanya melalui pengajaran, namun juga menyebarluaskannya melalui tulisan/publikasi, dan mengaplikasikannya dengan pengabdian kepada masyarakat. Dan semoga bisa menjadi amalan saya juga ketika sudah tidak ada di dunia, melalui ilmu yang bermanfaat sebagai amal jariah yang tidak terputus. Kedua, saya merasa punya tanggung jawab setelah mendapat privilege untuk bisa sekolah tinggi, melalui beasiswa pula sejak S1 hingga S2, dimana masih banyak orang lain yang tidak bisa mengenyam kesempatan ini, yang mungkin bahkan saya pikir m...

Setelah penjelajahan ini, Akhirnya…

Saat sedang membaca novel Tere Liye, berjudul 'Tentang Kamu', tiba-tiba hpku bergetar. Sebuah notiviasi pesan masuk. Kusapu layar handphone untuk melihatnya. Tanganku tiba-tiba gemetar. Tak berpikir panjang, kubuka sebuah situs di google. Berkali-kali ku coba, tak kunjung bisa masuk.  Jantungku semakin berdegup kenjang. Ditambah jari-jariku yang terus gemetar. Kucoba membuka situs tersebut dengan aplikasi lain. Dan akhirnya, TERBUKA. Ku klik status dalam link tersebut. Aku menutup mulut, tanganku masih gemetar. Aku masih belum menyangka. Kutelpon seorang teman yang lebih paham masalah ini. “Halo ka?” tanyaku “Ya?” jawabnya dari balik telepon “Hari ini pengumuman. Kalau tulisannya lolos substansi itu artinya apa?” tanyaku dengan suara bergetar “Artinya kamu lolos!” jawabnya bahagia. Hari ini, 16 September 2019, akhirnya yang kuikhtiarkan sejak meminta izin pada Ibu Desember 2018 silam, menampakkan hasilnya. Hampir 10 bulan terlewati, 2 lebaran ku lalu...

Impian #1 : Perjalanan

Impian akan membawa kita terbang. Semakin kita percaya dengan impian itu, semakin kita tak menyangka bahwa ia telah membawa kita jauh dari sebelumnya. Ada begitu banyak hal yang akan terlewati dalam proses pencapaiannya. Sehingga rasa-rasanya, rugi jika tak diabadikan dalam aksara. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian .” Tulisan ini in syaa Allah akan berkelanjutan. Inspirasinya berawal dari pemikiran kebanyakan orang yang hanya melihat hasil pencapaian seseorang. Hingga lupa ada proses yang mengorbankan banyak tangis, rindu, waktu, dan berbagai ujian fisik, materi hingga batin. Ketika setiap penonton melihat proses itu, maka mereka tidak akan mudah (lagi) menilai dan berkomentar, “Dia beruntung”, “Dia punya fasilitas lengkap”, atau “Dia punya orang dalam.” Setiap orang menjalani prosesnya dari titik nol hingga ia menja...